RUKUN LAA ILAAHA ILLALLAAH

RUKUN LAA ILAAHA ILLALLAAH

Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjelaskan bahwa kalimat Laa ilaaha illallah mencakup dua rukun, yaitu:

1) An-Nafyu (penafikan) yang terdapat dalam kalimat “Laa ilaaha”, yang bermakna menafikan atau menganggap salah semua sesembahan selain Allah ta’ala.

2) Al-Itsbat (penetapan) yang terdapat dalam kalimat “illallaah”, yang bermakna menetapkan atau meyakini bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah ta’ala.

Seorang hamba belum menjadi muslim sampai dia mengamalkan dua rukun ini.

Andaikan ada seorang hamba yang beribadah kepada Allah ta’ala; melakukan sholat, puasa, zakat dan ibadah-ibadah lainnya, namun dia tidak meyakini bahwa Allah ta’ala sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dan selain-Nya adalah sesembahan yang salah, maka dia bukan muslim atau menjadi murtad karena tidak mengamalkan kalimat Laa ilaaha illallah yang merupakan pintu untuk masuk ke dalam Islam.

Demikian pula sebaliknya, apabila seorang hamba telah mengimani bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah dan semua sesembahan selain-Nya adalah salah, namun pada kenyataannya dia masih menyembah kepada selain-Nya, seperti berdoa kepada selain-Nya, menyembelih untuk selain-Nya dan berbagai kesyirikan lainnya, maka berarti dia telah melakukan kesyirikan dan kekafiran kepada Allah ‘azza wa jalla, yang menyebabkannya murtad, keluar dari Islam.

📝 DALIL RUKUN LAA ILAAHA ILLALLAAH

Allah ta’ala berfirman,

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

“Maka barangsiapa mengingkari thoghut (sesembahan selain Allah) dan hanya beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh dengan ikatan yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illallaah).” [Al-Baqarah: 256]

Firman Allah ta’ala, “Maka barangsiapa mengingkari thoghut (sesembahan selain Allah)” adalah penafikan seluruh sesembahan selain Allah ta’ala.

Adapun firman-Nya, “Dan hanya beriman kepada Allah” adalah penetapan bahwa hanya Allah ta’ala satu-satunya sesembahan yang benar.

[Dinukil dari Buku “TAUHID, PILAR UTAMA MEMBANGUN NEGERI” karya Ustadz Sofyan Chalid Ruray, Lc hafizhahullah]