Pengertian, Macam, Rukun, dan Syarat Syirkah

Pengertian, Macam, Rukun, dan Syarat Syirkah

syirkah al milk investasi tanah syariah

A. Pengertian Syirkah

Syirkah secara kebahasaan adalah percampuran, percampuran dalam hal ini adalah percampuran salah satu dari dua harta dengan harta lainnya tanpa dapat dibedakan antara keduanya. Secara istilah adalah kerjasama untuk mendayagunakan (tasarruf) harta yang dimiliki dua orang secara bersama-sama oleh keduanya yakni keduanya, namun masing-masing memiliki hak untuk tasarruf.

Pengertian syirkah menurut bahasa dan para ulama fuqaha, kiranya dapat dipahami bahwa maksudnya adalah kerjasama antara dua orang atau lebih dalam berusaha, yang keuntungan dan kerugiannya.

Adapun yang dasar hukum syirkah oleh para ulama sebagai berikut :

Artinya : Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)[274]. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.

Dalam hadits Nabi SAW :

Artinya : Allah taala berfirman, Aku pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selagi masingmasing dari keduanya tidak menghianatinya yang lain, aku keluar dari keduanya. (HR Abu Dawud).

B. Macam-macam Syirkah

Syirkah terbagi dua macam : yaitu syirkah milk dan uqud.

1. Syirkah Milk
Syirkah milk adalah kerjasama dua orang atau lebih yang memiliki barang tanpa
adanya akad syirkah yang meliputi dua macam yaitu syirkah milk ikhtiyar dan syirkah milk aljabr.

  1. Syirkah milk ikhtiyar berarti kerjasama yang muncul karena adanya kontrak antara
    orang yang bersekutu. Semisal jika dua orang membeli dan keduanya menerima maka
    jadilah pembeli dan yang diberi wasiat bersekutu diantara keduanya kerjasama milik.
  2. Syirkah milk al-jabr berarti kerjasama yang bukan didasarkan atas perbuatan
    keduanya, misal dua orang mewariskan sesuatu, maka yang diberi warisan adalah
    menjadi sekutu mereka.

2. Syirkah Uqud
Sirkah uqud adalah transaksi yang terjadi antara dua orang atau lebih bersekutu dalam
harta dan keuntungannya dan sirkah uqud terbagi dalam beberapa jenis yaitu sirkah inan,
mufawwadah, wuju, dan abdan.

  • Sirkah inan merupakan kerjasama antara dua orang dalam harta untuk berdagang
    secara bersama-sama dan membagi laba atau kerugian bersama-sama.
  • Sirkah Mufawwadah merupakan kerjasama dengan cara memiliki kesamaan dalam
    nominal modal, sharing keuntungan, pengolahan, dan agama yang dianut.
  • Sirkah Wujuh merupakan kerjasama dua pemimpin yang tidak memiliki modal dalam
    usaha membeli barang dengan cara tidak tunai, dan akan menjualnya secara tunai
    (cash). Kemudian dibagi diantara mereka dengan kondisi dan syarat tertentu. Namun
    beberapa ulama melarang pola seperti ini, karena rentan penipuan.
  • Syirkah Abdan merupakan kerjasama untuk menerima pekerjaan dan akan dikerjakan
    secara bersama-sama, lalu keuntungan dibagi diantara keduanya dengan menetapkan
    syarat tertentu.

C. Rukun dan Syarat Syirkah

1. Dalam perspektif syirkah :

  • Benda yang diakadkan harus dapat diterima sebagai perwalian.
  • Terkait keuntungan pembagiannya harus jelas dan dapat diketahui dua pihak.

2. Dalam perspektif syirkah mal :

  • Modal yang dijadikan objek akad syirkah adalah uang
  • Modal ada ketika akad syirkah dilakukan

3. Dalam perspektif syirkah mufawwadah :

  • Modal ( pokok harta ) harus sama
  • Bagi yang bersyirkah ahli untuk kafalah
  • Objek akad disyariahkan umum, pada semua macam juaal beli atau perdagangan.

4. Syarat sirkah inan, sama dengan syarat sirkah mufawadah.

Perbedaan Syirkah Al-Milk dan Syirkah Al-Aqd

Ketika belajar Syirkah/syarikah, khususnya saat belajar musyarakah mutanaqishas, sering
muncul pertanyaan, apa bedannya antara syarikah Al milk dan syarikah Al ‘aqd. Berikut
pemaparannya.

1. Syarikah Al Milk

Syirkah Al Milk mengandung arti kepemilikan bersama (co-ownership) yang keberadaannya
muncul apabila dua orang atau lebih memperoleh kepemilikan bersama (joint ownership) atau suatu
kekayaan (asset). Misalnya, dua orang atau lebih menerima warisan/ hibah/ wasiat sebidang tanah
atau harta kekayaan atau perusahaan, baik yang dapat dibagi atau tidak dapat di bagi-bagi .
Apabila harta bersama (warisan/hibah/wasiat) dapat dibagi, namun para mitra memutuskanuntuk
tetap memiliknya bersama, maka syirkah al milk tersebut bersifat ikhtiyari (sukarela/voluntary).
Namun apabila barang tersebut tidak dapatdibagi-bagi dan mereka terpaksa harus memiliknya
bersama, maka syirkah al milk ini bersifat jabari (tidak sukarela/involuntary atau terpaksa).

Dalam syarikah al milk, hubungan sesama mitra (syuraka`) tidak mengandung unsur wakalah
dan kafalah. Dengan demikian, mitra (syarik) yang satu bukan merupakan wakil dan kafil dari
mitranya yang lain terkait dengan asset atau barang yang dimiliki bersama oleh keduanya.

Contoh, bapak A dan bapak B secara bersama-sama memiliki sebuah motor Honda. Entah itu
dari hasil beli patungan atau hasil warisan atau hasil pemberian dari orang lain untuk mereka
berdua.

Kepemilikan bersama (syarikah) terhadap motor Honda oleh kedua orang tersebut disebut
syarikah al milk jika masing-masing mitra (bapak A dan bapak B) tidak saling menyerahkan hak
perwakilan (wakalah) untuk melakukan tasharruf dan tidak ada saling kafalah. (lihat arti tashaaruf
di bawah)

Maksudnya begini, jika bapak A tidak menyerahkan hak tasharruf atas porsi yang menjadi
miliknya kepada bapak B dan sebaliknya, bapak B tidak menyerahkan hak tasharruf atas porsi
yang menjadi miliknya kepada bapak A maka syarikah seperti ini adalah syarikah al milk.

Mari contoh di atas diperjelas. Jika bapak A tidak mengizinkan bapak B (atau sebaliknya)
untuk menjual porsi yang menjadi miliknya (milik bapak A dan sebaliknya) dari sebuah motor
Honda tersebut maka syarikah ini disebut syarikah al milk. Ketidak-adaan hak bagi mitra untuk
bertindak atas porsi mitranya yang lain ini membuat akad jual motor dimaksud bisa dibatalkan
sama sekali atau batal untuk porsi mitra yang tidak mengizinkan.

Contoh lain, masih dengan contoh di atas, jika bapak A ngojek dengan motor Honda milik
bersama dan mendapatkan uang, maka (1) bapak A berdosa; dan (2) bapak B berhak atas ujrah
wajar (ujrah al mitsl) sebagai akibat porsinya (pada motor tersebut) dimanfaatkan untuk ngojek
oleh bapak A. (Besaran ujrah al mitsl akan menjadi pembahasan tersendiri)

Di samping itu, syarikah al milk juga tidak mengandung kafalah. Jika bapak A merusak motor
Honda milik bersama tadi (entah merusak secara sengaja atau tidak), maka porsi kepemililkan
bapak B tidak berubah. Kerusakan motor sepenuhnya menjadi tanggungjawab bapak A karena dia
yang merusaknya.

Katakanlah motor Honda milik bersama tadi sebelum dirusak bapak A seharga 10 juta di
mana porsi masing-masing adalah 50%, dan akibat kerusakan ini motor terjual dengan harga 7 juta
maka bapak B tetap memiliki hak sebesar 5 juta sedangkan bapak A mendapat haknya hanya
sebesar 2 juta. Karena tidak ada kerugian yang ditanggung bersama dalam syarikah al milk. Bapak
A harus rela kehilangan 3 juta-nya.

Jika anda dan saudara anda mendapat warisan sebuah rumah, lalu rumah dirusak oleh saudara
anda, maka nilai hak yang berkurang hanya di sisi hak saudara anda. Sedangkan bagian anda tidak
berkurang. Demikian karakter syarikah al milk. Jadi, bapak A (mitra 1) hanya berhak atas porsi
miliknya dan bapak B (mitra 2) hanya berhak atas porsi miliknya. Bapak A tidak bisa dan tidak ada
hak untuk -contoh- menjual porsi milik mitranya (bapak B). Begitu juga bapak B tidak boleh
mengutak-atik porsi yang menjadi bagian mitranya, yaitu bapak A. Mengutak-atik dalam arti
menjual, menyewakan atau tindakan apapun yang berakibat hukum

2. Aqd ‘al Syarikah

Berbeda dengan syarikah al milk, hubungan sesama mitra dalam Syarikah al ‘Aqd mengandung
unsur wakalah dan kafalah. Ini artinya setiap mitra diberi hak oleh mitranya yang lain untuk
melakukan tasharruf terhadap aset yang dimiliki bersama.

Contoh, bapak A dan bapak B memilik bersama sebuah motor Yamaha. Mereka (para mitra yaitu
bapak A dan bapak B) saling memberikan hak untuk mengelola asset bersama, yaitu motor
Yamaha. Contoh mengelola adalah disewakan, dijual-belikan dan lain-lain.

Contoh pengelolaan, bapak A mengizinkan kepada bapak B (dan sebaliknya) untuk menyewakan
porsi kepemilikan masing-masing terhadap motor Yamaha milik bersama kepada pihak ke-3 di
mana uang hasil sewa menjadi milik mereka (A dan B) sesuai kesepakatan atau sesuai porsi
kepemilikan mereka. Contoh ini menjelaskan bahwa setiap mitra mengizinkan porsi kepemilikannya
dikelola atau ditasharruf-kan oleh mitra yang lain. Itu artinya dalam syarikah al ‘aqd terdapat
unsur wakalah.

Syarikah al ‘Aqd juga mengandung unsur kafalah. Untuk itu, jika motor Yamaha ini dirusak
oleh salah satu mitra secara tidak sengaja, maka kerugian akibat kerusakan ditanggung bersama
oleh kedua belah mitra (bapak A dan bapak B) sesuai dengan porsi kepemilikan.

Contoh, porsi kepemilikan masing-masing senilai 50%, harga motor Yamaha sebelum rusak
adalah 10 juta, dan akibat rusak dijual dengan harga 7 juta, maka masing-masing menanggung
kerugian sesuai porsinya yaitu 50%. Dengan demikian, kerugian sebesar 3 juta dibagi rata kepada
A dab B, sehingga masing-masing menanggung 1,5 juta. Untuk itu, uang hasil penjualan (jika
syarikah ingin dibubarkan/tashfiyah) maka masing-masing mendapat 3,5 juta.

Kesimpulannya, jika dalam syarikah atau kepemilikan bersama terdapat unsur saling wakalah
dan saling kafalah maka kepemilikan bersama ini adalah syarikah al ‘aqd. Sebaliknya, jika tidak
ada unsur saling wakalah dan saling kafalah maka ia adalah syarikah al milk.

Tasharruf adalah segala tindakan yang berakibat hukum atas asset baik ucapan atau
perbuatan. Tasharruf semacam disposition, yaitu getting rid of an asset or security through a
direct sale or some other method. Di antara tasharruf adalah menjual, menyewakan dan bentuk
perpindahan kepemilikan lainnya.